Pasebainfo, Jakarta — Penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri dinilai semakin penting untuk menjawab tantangan kesiapan kerja lulusan. Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan pendiri Universitas Perwira Purbalingga (UNPERBA), Bambang Soesatyo atau Bamsoet, mendorong kolaborasi antara UNPERBA dengan PT John Toys Indonesia, perusahaan manufaktur berorientasi ekspor yang beroperasi di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada program magang, pelatihan industri, pengembangan kompetensi, serta pembelajaran berbasis pengalaman kerja agar mahasiswa memiliki pemahaman lebih nyata mengenai kebutuhan perusahaan dan standar industri.
Bamsoet menyampaikan hal tersebut saat menerima perwakilan PT John Toys Indonesia di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Baca juga: KKI Jangan Hanya Andalkan Nasionalisme, Harus Mampu Bersaing dengan Visa-Mastercard
Menurut Bamsoet, pendidikan tinggi harus semakin dekat dengan realitas dunia kerja. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga perlu mengenal langsung bagaimana proses produksi berjalan, bagaimana standar kualitas dijaga, bagaimana target perusahaan dicapai, serta bagaimana budaya kerja dibangun.
“Pendidikan tinggi harus semakin dekat dengan dunia industri. Mahasiswa perlu memperoleh kesempatan untuk melihat, merasakan, dan memahami secara langsung bagaimana sebuah perusahaan bekerja, bagaimana produk dibuat dengan standar tertentu, bagaimana kualitas dijaga, serta bagaimana perusahaan memenuhi tuntutan pasar,” ujar Bamsoet.
Baca juga: Jalan Panjang Kedaulatan NKRI, Indria: Negara Harus Hadir untuk Rakyat
Kampus dan Industri Harus Bertemu Sejak Mahasiswa Kuliah
Bamsoet menilai hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia usaha idealnya dibangun sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah. Dengan demikian, proses adaptasi lulusan terhadap dunia kerja tidak dimulai dari nol setelah mereka lulus.
Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman mengenai ritme kerja, target, kedisiplinan, kerja sama tim, pemecahan masalah, standar operasional, serta tanggung jawab profesional.
Di sisi lain, perusahaan juga dapat memperoleh manfaat dengan lebih awal mengenali potensi sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Industri bergerak dengan standar yang sangat dinamis. Mahasiswa perlu memahami bagaimana teori yang dipelajari di kelas diterapkan dalam proses produksi, pengendalian mutu, manajemen, hingga pelayanan kepada pelanggan,” kata Bamsoet.
Menurutnya, pengalaman tersebut akan membuat mahasiswa lebih siap ketika memasuki dunia kerja karena telah mengenal tuntutan, disiplin, tanggung jawab, dan budaya profesional.
Program Magang Perlu Punya Target Kompetensi
Bamsoet menekankan bahwa program magang sebaiknya tidak sekadar dijalankan sebagai kewajiban akademik. Magang harus dirancang dengan tujuan kompetensi yang jelas agar mahasiswa memperoleh pengalaman kerja yang benar-benar bermanfaat.
Mahasiswa dapat ditempatkan sesuai bidang studi dan kebutuhan perusahaan, mulai dari produksi, pengendalian mutu, administrasi, manajemen, sumber daya manusia, pemasaran, hingga bidang lain yang relevan.
Kerja sama juga dapat diperluas melalui pelibatan profesional industri sebagai praktisi pengajar, mentor, pembicara dalam kuliah industri, serta mitra dalam pengembangan materi pembelajaran.
Sementara perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi melalui penelitian terapan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, inovasi manajemen, maupun kajian yang berkaitan dengan efisiensi dan produktivitas perusahaan.
Tantangan Lulusan Perguruan Tinggi
Bamsoet juga menyoroti persoalan ketenagakerjaan nasional sebagai alasan mengapa hubungan pendidikan dan dunia kerja harus diperkuat.
Data Badan Pusat Statistik yang dikutip Bamsoet menyebut pada 2025 terdapat sekitar 1,01 juta lulusan perguruan tinggi yang belum bekerja. Sementara total pengangguran terbuka disebut mencapai sekitar 7,28 juta orang.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa ijazah dan gelar akademik perlu diikuti dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Kemampuan teknis, komunikasi, kerja sama tim, penguasaan teknologi, disiplin, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan sejak masa kuliah.
“Industri membutuhkan SDM yang kompeten, sementara perguruan tinggi membutuhkan mitra yang dapat memberikan pengalaman dunia kerja secara nyata. Kalau keduanya dipertemukan sejak mahasiswa masih kuliah, manfaatnya akan kembali kepada perusahaan, kampus, mahasiswa, serta masyarakat,” pungkas Bamsoet.
Peluang Penguatan SDM Purbalingga
Kerja sama UNPERBA dengan PT John Toys Indonesia juga dinilai berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi pengembangan sumber daya manusia di Kabupaten Purbalingga.
Kehadiran perusahaan manufaktur berorientasi ekspor dapat memberikan gambaran nyata kepada mahasiswa mengenai tuntutan standar produksi, pengendalian kualitas, efisiensi operasional, serta kebutuhan pasar internasional.
Pada saat yang sama, keberadaan perguruan tinggi di daerah dapat menjadi sumber talenta yang mendukung kebutuhan tenaga kerja industri setempat.
Jika hubungan kampus dan industri dapat dibangun secara berkelanjutan, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk membangun karier di daerahnya sendiri.
Bamsoet berharap komunikasi antara UNPERBA dan PT John Toys Indonesia ditindaklanjuti dalam program konkret sehingga kerja sama tersebut tidak berhenti pada tahap pertemuan dan pembahasan awal.
Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan dunia usaha harus menghasilkan manfaat nyata berupa peningkatan kualitas lulusan, kesiapan kerja, penguatan industri, serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Kolaborasi kampus dan dunia industri pada akhirnya dinilai menjadi salah satu cara untuk memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja, sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi kompetisi yang semakin dinamis.
(Red)